Selasa, 25 Maret 2014

Duduk & Melagu

Masa pendek ketika duduk lalu melagu. Bukankah sederhana ini yang membuat rindu. Bukankah aroma waktu tengah menyengat dalam hangat, menjanjikan sekali lagi rasa hidup yang sempurna. 
Rekah bibir kala malam, kala siang. Sudah lebih dari sekedar bumbu manis juga rengkuh hangat untuk manusia. Maka waktu, cinta, cita, entah apa terjemahan yang pasti. Tapi waktu bersama rasa dan sukacita itu sudah berada. Di sini.
Bilapun waktu sudah terlalu tua, tapi ingatlah bahwa waktu tiada pernah kadaluarsa. Sedetik saja bercinta dengan kelam, tenggelam. Maka ini, di sini yang selalu berbahagia karena mengenang yang perlu. Lebih bahagia karena ingin hidup sekarang saja.
Bersama kenang yang sungguh rupawan. Menghirup udara yang akan segera terhembus. Lalu dan kini menjadi bagian pasti, yang menjadi guru paling setia dan tiada pernah pilih kasih.
Kemudian detik ini, tengah menjadi sejarah baru yang harus bahagia. Karena belajar, bahagia selalu menjadi jawaban. Dan jawaban ini, semewah waktu pendek namun banyak untuk duduk dan melagu.

Selasa, 28 Januari 2014

Puisi Matahari 2

Aku menyambut pagi dengan suara, dengan cahaya. Mungkin pagi yang menyambut lebih dulu. Membukakan mata untuk tersadar mengenai waktu yang baru dimulai. Bisa-bisanya matahari berangkat sendiri. Semenjak dia tiada bisa mengintai lagi. Lalu sadar bermakna lebih dalam. Bila matahari lah yang selalu menang. Bila matahari yang selalu memperjelas tentang ada. Aku mau jadi matahari saja.


Depok
28 Jan 2014 09:22

Jumat, 22 November 2013

Ambisi

Terburu-buru lalu tidak sempat singgah. Sekedar duduk sebentar. Menikmati secangkir hangat bersama rasa yang baru. Atau lama yang memiliki rindu. Bersama angin yang bercengkerama tanpa pernah menyakiti hati.
Biarpun bumi tidak pernah diberi kesempatan berhenti sedetik saja. Tapi dia tidak pernah juga terburu-buru. Bila terburu akan menabrak. Lalu mati.
Bila sebuah saja ingin lebih cepat, tidak juga damai akan bersama. Bukan artinya harus melambat, tapi beriring saja hingga selesai.
Berkejar itu, seperti ambisi. Meniadakan sempat untuk berteduh dan mengenali. Menabrak semesta hati yang seharusnya bersatu. Lalu manusia-manusia semakin banyak saja. Entah penting atau tidak. Tapi bumi tidak meminta, tidak juga mengejar apapun.


Senin, 18 November 2013

Hening Ramai

Tenang adalah bersama hening yang ramai
Bersama warna
Bersama peralihan

Bila tenang itu sederhana
Maka untuk apa berhala-berhala itu

Mungkin untuk menguji
Mungkin untuk beritakan
Bila mata yang ada pada tempatnya
Tidak juga masih melihat yang sama

Maka purnama, maka senja
Tetaplah datang dan pergi
Sebagai surat, tanda, dan segalanya

Bahwa sederhana adalah bahagia
Mungkin bukan sama
Dengan arti tawa

Gravitasi

Dalam gravitasi tubuh tertarik. Tidak terbang. Tidak tenggelam. 
Dalam massa yang berbeda-beda kita berbuat. Dengan rotasi cepat atau lambat, sebuah pijak akan kembali dan tidak ke mana-mana. Berada di orbit tua.  
Bicara semesta dalam gravitasi. Menarik dan menjauhkan. Hingga segala tetap pada tempatnya. Tiada kenal pergi, tiada kenal jauh. Karena jarak dan hambat ada untuk berserasi. Bersama bintangnya yang hanya sebuah.

Senin, 11 November 2013

Kupu-kupu

Kupu-kupu terbang menyapa
Secara sungguh tanpa kias
Akan ada tamu, katanya

Melintas sana sini hingga bertatap
Hingga waktu berkata sudah dan sampai jumpa

Minggu, 03 November 2013

Mawar Merah yang Mana?

Bila penjelasan memang ada, untuk apa semesta dianggap tidak beriring. Seperti kelahiran Adam dengan deskripsi evolusi.
Seperti mengelak pada kesetiaan seekor anjing dan memercayai kucing manja. Bahwa pada akirnya semua bermuara pada kejelasan.

Rabu, 30 Oktober 2013

Pasir

Pukau itu iman milikmu
Sekalipun mencuri seluruh pasir pantai adalah mustahil
Sekali itu pun aku mengerti
Bukan jerih payah untuk mengubah suatu indah

Senin, 28 Oktober 2013

Tong Sampah

Pernah separuh malam yang memanggil
Walau puncak itu entah di mana
Suara tetap tergaung lalu tergema
Menyampaikan sebuah pesan
Bahwa tampungan sudah penuh
Menenggelamkan yang cukup
Menghilangkan petunjuk
Sampai pada sebuah musim kemarau pendek
Tapi sangat panas


Kamis, 17 Oktober 2013

Payah

Batas yang terlanggar itu membuat benci satu lagi
Sudah terbagun dengan jeda hampir tiada
Lalu mau apa

Hancur itu karena maumu sendiri
Masuk menerobos dengan rasuk lama
Sesulit berupaya mencipta irama agar aku suka
Seyakin berpihak pada kisah baru

Maka hempas saja
Hempas saja lagi hingga makin buta
Maka pergi sampai kembali pada buntu
Buntu nyata yang sangkanya semu