Senin, 25 Juni 2012

PUISI MATAHARI


bukan apa yang terjadi,
 tapi apa yang terpelajari
lewat purnama satu, dua, tiga, …
tak sudah juga kepastian menjadi pasti
hingga bingar, tegar, menelungkup
 bergugur untuk padam lalu bersemi atas nama maaf
jatuhkan biar cedera, tersayat tapi tak menangis
jatuh saja, pasti bangkit, pasti berani
jatuh saja lagi, tak bisa hentikan lari
sampai pagi, sampai pagi, sampai pagi …keseribu
sempurna bulat tampak matahari senang
aku jadi matahari saja
Depok, 2012
Untuk hidup(ku) yang (selalu) seperti pagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar