Sabtu, 14 Juli 2012

A Story of Seasons


Andai satu hari setelah hari itu tidak pernah terjadi. Siang mulanya. Ingatku. Tak akan berubah himpitan, paksaan, kebetulan, takdir, yang pernah indah, buruk, sangat indah kembali. Tak akan tertukar detik tipis bermakna antara buku, hujan, pena, kereta, tawa, Jakarta dalam nostalgia dengan gemericik tidak percayaan, pergaulan bebas, pergaulan salah, pergaulan berlebihan. Buta.

Andai satu hari setelah hari itu bukan kenyataan. Bukan renggang, bukan diam, bukan kesudahan yang kekinian mewujud. Bukan derit pintu harapan, genggaman, hangat, percaya. Bukan persisnya. Bukan bundar yang tak punya tepian. Bisa jatuh.
Andai satu hari setelah hari itu terhapus. Hari selang satu yang damai, jujur. Mengejutkan, menyenangkan, melagukan hujan terderas seumur hidup menjadi irama. Menjadi kesempatan. Hari itu juga, ketika cerita yang sudah panjang tercatat, jatuh, lalu berubah alur. Berubah tokoh. Padahal yang lama belum mati, tidak mati. Sesekali plotnya mundur, lalu maju, mundur jauh, maju sedikit, lalu….

Tak tahu akan ke mana.

Menyesal, itu bukan keahlianku. Penampilan terbaik sudah dipersembahkan, tak lagi cacat seperti kali pertama. Biar hujan itu, kota ini, buku-buku, pertunjukan favorit, apapun. Biar tetap di tempatnya. Biar aku pindah rumah, sesekali bolehlah kujenguk rumah lamaku. Bertualang, itu kemahiranku. 

Yang pasti, satu hari berhujan deras, sangat deras itu, tercatat dalam kisahku, kisahmu. Dimana pelajaran hidup, kejujuran, kepercayaan dalam genangan basah bumi malam terenyam berhasil dimengerti. 

Tentang aku? Aku percaya cara-Nya.

God Bless You
Depok, Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar